Metroasia.co, Jakarta
Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan (KLHK) berencana memanggil delapan entitas yang diduga ikut memperparah banjir di daerah aliran sungai (Das) Batang toru, sumatera utara.
Pemanggilan ini untuk mnelusuri gelondongan kayu yang terseret banjir bandang di sumatera dan berserakan hingga kepinggir sungai dan pantai.
Gelondongan kayu muncul diberbagai titik setelah banjir besar melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Temuan ini langsung memicu dugaan bahwa kerusakan hutan dan aktivitas industri dikawasan konservasi ikut memperparah skala bencana.
Menteri Lingkungan hidup, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi delapan perusahaan yang berada diwilayah terdampak DAS Batang toru. Perusahaan perusahaan tersebut bergerak disektor Hutan Tanaman Industri, Pertambangan emas, PLTA, hingga perkebunan sawit.
Menurut Hanif, bencana banjir sumatera bukan hanya dipicu Siklon Tropis Senyar, tetapi juga didorong oleh aktivitas industri yang menggerus kawasan resapan air.
“Ada delapan berdasarkan analisia citra satelit kami berkontribusi memperparah dampak hujan ini. Kami sedang mendalami, dan saya sudah minta Gakkum melakukan langkah langkah cepat dan terukur” sebutnya di Jakarta, senin (1/12), dikutip dari cna.id
DUGAAN KERUSAKAN DAS
Hanif menegaskan bahwa sumatera utara menjadi Provinsi dengan korban terbanyak dalam bencana kali ini dan kawasan Batang Toru memiliki risiko tinggi sejak awal.
“Batang Toru ini, katanya. Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah berada disisi lereng dan lembah. Kemudian dia curam, sementara dilerengnya ada aktivitas” jelasnya
KLHK akan meminta penjelasan seluruh perusahaan terkait aktivitas operasional mereka dikawasan DAS. Termasuk risiko lingkungan dan pembukaan lahan yang mungkin berkontribusi pada besarnya banjir bandang.
Pemerintah juga berencana meninjau kembali dokumen persetujuan lingkungan perusahaan – perusahaan yang beroperasi diwilayah terdampak Aceh, Sumut dan Sumbar.
Data Citra satelit, 2016 – 2025 menunjukan masifnya pembukaan lahan di Sumatera Utara.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut menyebut dalam satu dekade terakhir, Lebih dari 2.000 hektar hutan rusak di provinsi tersebut.
Direktur eksekutif Walhi Sumut, Rianda Purba, menegaskan bahwa penyebab utama banjir bandang bukan cuaca ekstrek.
“Perusakan hutan disana dipicu oleh beberapa perusahaan. Kita menyangkal pernyataan Gubernur Sumatera Utara bahwa banjir tersebut karena cuaca ektrem. Pemicu utamanya adalah kerusakan hutan dan alih alih pungsi lahan dari hutan menjadi non hutan” tegasnya dalam konfrensi Pers CNN Indonesia. Senin (1/12)
