Metroasia.co, Simalungun
Sebuah insiden penembakan yang diduga melibatkan kelompok pencuri sawit (sering disebut “ninja sawit”) terjadi Rabu malam di Afdeling 4 Blok 52, Kebun Marihat, PTPN IV Regional‑2. Menurut keterangan warga setempat, sekitar tujuh orang terlihat bergerombol di area tersebut sebelum terdengar suara letusan senjata api. Kamis (4/12)
Dalam peristiwa itu, Rudianto alias Muntuk (warga Simpang Murni,Nagori Marubun Jaya, Kecamatan Tanah Jawa) dikabarkan meninggal setelah mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Balimbingan.
Sementara itu, Josua, yang tidak mengalami cedera, berhasil diamankan oleh petugas keamanan kebun dan selanjutnya diserahkan ke Polres Simalungun untuk proses hukum.
Warga yang berada di sekitar lokasi melaporkan mendengar “letusan senjata api” sebelum menemukan salah satu terduga pelaku dengan luka tembak. Namun hingga kini belum ada pernyataan resmi yang menjelaskan kronologi lengkap, jenis senjata yang dipakai, maupun prosedur keamanan yang diterapkan oleh pihak kebun.
Sejumlah warga mengungkapkan kekhawatiran tentang prosedur keamanan yang dianggap terlalu keras. “Kalau memang ada pencurian, tentu harus ditangani sesuai hukum, tapi penggunaan senjata harus jelas aturannya,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan nama.
Sementara itu, Manajer Unit Kebun Marihat, Andi Sahatma Purba, belum memberikan keterangan. Upaya konfirmasi media masih menunggu balasan.
Sorotan lain di kebun Marihat
Kebun Marihat juga tengah menghadapi masalah lain, seperti dugaan penyelewengan dana perawatan tanaman dan serangan hama ulat api yang menyebabkan kerusakan signifikan pada tanaman sawit. Hal ini menambah kompleksitas situasi keamanan dan manajemen di area tersebut.
Insiden penembakan ini kembali menyoroti pentingnya transparansi dan kepatuhan prosedur keamanan di perkebunan milik BUMN. Pihak PTPN IV, hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi, sehingga publik menunggu klarifikasi lebih lanjut mengenai kronologi, jenis senjata, dan langkah-langkah yang akan diambil untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Editor : Robin silaban.
