Metroasia.co, Simalungun
Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Baperida) Kabupaten Simalungun melaksanakan review kinerja pelaksanaan dan pelaporan Aksi Konvergensi Penurunan Stunting Tahun 2025 di Kantor Baperida, Pematang Raya. Acara yang dipimpin oleh Staf Ahli Bupati Bidang Administrasi Umum, Ronald Siharmada Banjarnaor, dihadiri oleh perwakilan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) kabupaten, kecamatan, serta nagori/kelurahan.
Banjarnaor menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2022, satu dari lima balita di Indonesia masih mengalami stunting. Pemerintah pusat menargetkan prevalensi nasional turun menjadi 13,2 % pada 2029, dengan pendekatan intervensi konvergen, terintegrasi, dan tepat sasaran.
Di Simalungun, upaya penurunan stunting selama empat tahun terakhir difokuskan pada lima aksi konvergensi terintegrasi: analisis situasi, penguatan perencanaan, pelaksanaan, monitoring‑evaluasi, serta penyusunan kebijakan. Kabupaten ini masuk dalam lokasi fokus intervensi terintegrasi sesuai Keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional.
Namun, hasil Survei Standar Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan peningkatan prevalensi stunting sebesar 9,53 poin dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan perlunya percepatan dan evaluasi menyeluruh.
Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia, Hotdiaman Saragih, menyatakan tujuan review ini adalah menyampaikan capaian program, mengidentifikasi kemajuan, serta merumuskan rekomendasi perbaikan untuk perencanaan dan penganggaran tahun berikutnya. Diskusi panel melibatkan Asisten Administrasi Umum Akmal Harif Siregar, perwakilan Dinas Kesehatan Rosman Saragih, dan dipandu oleh Ober Damanik dari Baperida.
Banjarnaor mengimbau seluruh perangkat daerah dan lembaga terkait untuk memperkuat koordinasi, meningkatkan kapasitas, dan menegaskan komitmen dalam aksi konvergensi stunting. “Tanpa aksi nyata, penurunan stunting hanya akan menjadi wacana,” tegasnya.
Review ini diharapkan menjadi langkah konkret bagi Simalungun dalam menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. (Ril)
Editor : Robin silaban
